Upaya Pengembangan Kesehatan

Upaya Pengembangan  Kesehatan dan Lingkugan Hidup

Upaya Pengembangan Kesehatan dan Lingkugan Hidup

Sejak umat manusia menempati planet bumi ini, manusia Upaya Pengembangan Kesehatan  dan seringkali hadapi beberapa masalah kesehatan.

Bahaya kematian yang berasal dari beberapa faktor lingkungan hidup yang ada di sekitar mereka, seperti benda mati, makhluk hidup, tradisi istiadat, rutinitas, dan lainlain.

Baca Juga: Udah Check Asam Uratmu?

Tetapi, sebab kebatasan ilmu dan pengetahuan mereka pada waktu itu, tiap peristiwa yang mengagumkan di kehidupan mereka terus diasumsikan dengan beberapa hal yang memiliki sifat mistis dan Upaya Pengembangan Kesehatan.

Contoh, pandemi penyakit sampar yang berjangkit di satu tempat dipandang seperti sumpah dan amarah dewa. Periode silih bertukar, pada era ke-19 berlangsung Revolusi Industri di Inggris.

Zaman industrialisasi ini memunculkan permasalahan baru pada warga Inggris berbentuk timbulnya wilayah permukiman kotor, penumpukan buangan dan kotoran manusia, permasalahan sosial dan kesehatan, yang khususnya berlangsung di beberapa kota besar.

Di tahun 1832, Upaya Pengembangan Kesehatan berlangsung saatr pandemi penyakit kolera yang hebat di Inggris dan bawa beberapa korban jiwa manusia.

John Snow (1854) lakukan riset pandemiologi pada pandemi kolera yang berlangsung di Broad Street, London, dan menunjukkan jika penyebaran penyakit kolera yang berlangsung di Inggris pada waktu itu berasal dari pencemaran Vibrio cholera pada sumber air bersih yang dimakan oleh warga.

Semenjak waktu itu, ide pertimbangan berkenaan beberapa faktor lingkungan hidup external manusia yang memiliki dampak, baik langsung atau tidak langsung pada permasalahan kesehatan terus-terusan didalami dan berkembang jadi satu disiplin pengetahuan yang dikatakan sebagai Pengetahuan Kesehatan Lingkungan atau environmental health.

Upaya Pengembangan Kesehatan  dan Usaha-usaha yang dikerjakan oleh individu-individu, warga, atau negara untuk membenahi dan menahan berlangsungnya permasalahan masalah kesehatan yang berasal dari beberapa faktor lingkungan hidup external manusia disebutkan sanitasi lingkungan atau environmental sanitation.

Pertanyaan yang paling fundamental dari beberapa pengamat/ahli lingkungan yakni berkenaan kesehatan lingkungan itu sisi dari Pengetahuan Kesehatan Warga atau kebalikannya kesehatan warga jadi sisi dari pengetahuan kesehatan lingkungan.

keduanya sama mempunyai fakta yang logis. Jika lingkungan hidup itu mempunyai beberapa komponen yang terdiri dari elemen biologic, fisik, kimiawi, social, ekonomi, dan budaya terhitung dalam ranah warga, karena itu terang jika warga adalah sisi dari lingkungan hidup, hingga jika dianalogikan karena itu kesehatan warga jadi sisi dari kesehatan lingkungan.

Namun pada riwayat perubahan Pengetahuan Kesehatan Warga, yang lahir dan berkembang terlebih dahulu ialah pemahaman dari Kesehatan Warga. Dalam perubahannya selanjutnya, sanitation of environment sudah tumbuh jadi environmental

health (kesehatan lingkungan) dengan ruangan cakupan yang lebih luas. Dengan begitu, Kesehatan Lingkungan adalah salah satunya usaha dari Pengetahuan Kesehatan Warga dalam capai arah, yang bermakna juga ruangan cakupan Pengetahuan Kesehatan Warga lebih luas dibanding Kesehatan Lingkungan.

Perubahan usaha kesehatan lingkungan di Indonesia sendiri diawali di tahun 1901, oleh W. Schuffer yang bekerja pada De Sanemba Maatschaapy mulai menyelidik Anopheline fauna di Deli.

Di saat berikut permulaan penjagaan/pembasmian malaria diawali di Indonesia (yang tentu saja untuk kebutuhan penjajah pada waktu itu).

Dari sinipun terlihat jika embrio tumbuhnya kesehatan warga di Indonesia dimulai dari Kesehatan lingkungan.

Di tahun 1910 difungsikan ketentuan pemerintahan untuk menahan kolera dan sampar (pes), yang selanjutnya dikeluarkan pandemic ordonnantie di tahun 1911. Seterusnya perubahan usaha kesehatan bisa dipisah jadi beberapa masa yakni:

1.Masa 1917-1941

Perubahan pengetahuan pandemiologi dan ada pengalaman di Deli dan dampak-pengaruh perubahan yang lain, karena itu pemerintahan Hindia Belanda mulai pikirkan lebih benar-benar pekerjaan pemerintahan dalam kesehatan protektif.

Misalnya sistem pencacaran yang bagus yang diawali di tahun 1919, sampai di tahun 1926-1948 Indonesia dipastikan bebas dari penyakit cacar. Perintis kesehatan warga di Indonesia ialah John Lee Hydrick, seorang penasihat pakar dalam sektor kesehatan warga dari Instansi Rockeffeller-New York.

Dia tiba ke Indonesia di tahun 1924, selanjutnya mengaplikasikan falsafah kesehatan warga kekinian di Indonesia dengan membuat wilayah project percontohan kesehatan di Banyumas. Falsafah yang harus dipahami dari Hydrick ialah: jika pengajaran kesehatan dikerjakan secara baik dan sukses, pasti penyakit menyebar terberantas sendirinya.

Usaha-usaha project Banyumas ini diantaranya ialah:

  • Propaganda pembasmian penyakit cacing tambang
  • Penggunaan kelambu
  • Penyembuhan ibu hamil dan anak
  • Higiene sekolah

Project ini selanjutnya diambil pindah oleh pemerintahan Hindia Belanda di tahun 1937. Hingga saat jatuhnya Pemerintahan Hindia Belanda bagus di dalam perlakuan atau tujuan pengajaran tenaga medis masih condong menuju usaha kesehatan kuratif, dan usaha perawatan pribadi. Kesehatan Warga dalam makna yang lengkap belum mendapatkan perhatian yang pantas.

  1. Masa jaman Jepang-penyerahan kedaulatan R.I 1941-1950

Pada periode ini usaha-usaha kesehatan tidak terawat. Kegiatan-kegiatan ditujukan seutuhnya untuk perang, hingga tidaklah heran jika

peninggalan yang kita terima pada permulaan kemerdekaan (1945-1950), dalam sektor kesehatan, organisasi tingkat nasional atau wilayah pada kondisi rudimenter.

Pembangunan kesehatan warga baru bisa diawali semenjak kedaulatan RI sembuh kembali lagi di tahun 1950, karena pada periode itu masih repot dengan perjuangan fisik menjaga kemerdekaan.

  1. Masa 1950-1960

Di tahun 1950, pemerintahan RI mulai membuat falsafah kesehatan warga. Banyak kegiatan-kegiatan kesehatan warga yang sudah digerakkan diantaranya:

  • Pembasmian penyakit frambooesia dengan sistem simpel, dengan perintisnya diantaranya dr. R. Kodijat. Dalam sistem ini dipakai tenaga juru patek. Tenaga ini spesial cuman ada di Indonesia, tidak dikenali di beberapa negara lain. Tapi hasilnya benar-benar memberikan kepuasan.
  • Prof.Dr.M.Soetopo mempelopori penyidikan dan pembasmian penyakit kelamin.
  • Prof.Dr.Soerono mempelopori pembasmian penyakit malaria, dll. Adanya kegiatan-kegiatan itu dari sisi kekurangan tenaga, karena itu pemerintahan usaha memenuhi keperluan tenaga dalam sektor kesehatan warga dengan mendidik tenaga-tenaga baru. Di tahun 1952 sudah dibuka satu instansi pengajaran yang bervisi dan fokus ke kesehatan warga tingkat sekolah tinggi. Sebelumnya dibuka Sekolah tinggi Kontrolir Kesehatan, selanjutnya Sekolah tinggi Nutrisi, dan diikuti pengajaranpendidikan yang lain dari sisi masih menambahkan Fakultas Kedokteran. Di tahun 1965, pemerintahan sudah buka Fakultas Kesehatan Warga di Kampus Indonesia. Semenjak tahun 1950 Pemerintahan Indonesia coba mengaplikasikan falsafah Kesehatan Warga Dusun dalam Program Bandung Rencana yang upayanya adalah usaha kesehatan protektif dan kuratif. Di tahun itu juga, Indonesia masuk selaku anggota WHO. Di tahun 1956, Pemerintahan coba mengaplikasikan falsafah kesehatan warga dengan pendekatan aktif dan mengikutkan ikut serta warga. Aplikasinya dikerjakan di sejumlah wilayah percontohan kesehatan warga seperti project Bekasi, Jogjakarta, dll. Sistem yang diaplikasikan dengan target warga perdesaan dengan pemahaman target khusus ialah warga yang benar-benar membutuhkan perhatian di bagian servis kesehatan. Usaha kesehatan dasar yang digerakkan mencakup 9 usaha atau aktivitas selaku berikut ini:
  1. a) Pengobatan dan perawatan
  2. b) Kesehatan ibu dan anak
  3. c) Pemberantasan penyakit menyebar
  4. d) Perawatan kesehatan rakyat
  5. e) Kesehatan lingkungan.
  6. f) Pendidikan kesehatan warga
  7. g) Usaha kesehatan sekolah
  8. h) Usaha kesehatan gigi sekolah
  9. i) Statistik
  10. Masa 1960-1990

Di tahun 1960 falsafah kesehatan sudah memperoleh posisi yang kuat, dengan dituangkannya dalam undang-undang nomor 9/1960 mengenai pokok-pokok kesehatan (disempurnakan dengan UU No.24 Tahun 1993 mengenai Kesehatan).

Selanjutnya diikuti undang-undang karantina, undangundang pandemi, undang-undang hygiene atau ketentuan-peraturan yang lain. Perubahan usaha kesehatan warga berjalan dengan cepat. Di tahun 1965 dibangun Instansi Kesehatan Nasional, susul Instansi Biofarma, Instansi Higiene Perusahaan, Instansi Penelitian Kesehatan Nasional, dan sebagainya.

Di tahun 1967/1968 Pemerintahan meningkatkan falsafah kesehatan warga secara integratif. Usaha kesehatan ini merajut seluruh usaha kesehatan warga yang diperuntukkan dan ditujukan ke satu target yakni kesehatan warga semuanya.

Dengan implementasi falsafah ini diinginkan semua aktivitas akan terkoordinasi, terpadu, tersinkronisasi, dan simplifikasi (konsep KISS).

Dalam rakerkesnas (Rapat Kerja Kesehatan Nasional) pertama tahun 1968 dikenalkan ide servis kesehatan di puskesmas. Pada saat itu puskesmas dibagi jadi 4, yakni puskesmas tingkat dusun, tingkat kecamatan, tingkat kawedanan, dan tingkat kabupaten. Pembagian ini tidak berjalan lama sebab pada Rakerkesnas ke-2 tahun 1969 pembagian puskesmas diputuskan jadi 3 jenis yakni:

  1. a) Puskesmas type A, yakni puskesmas yang dipegang oleh dokter penuh.
  2. b) Puskesmas type B, yakni puskesmas yang dipegang oleh dokter tidak penuh.
  3. c) Puskesmas type C, yakni puskesmas yang dipegang oleh tenaga paramedis.

Sebenarnya puskesmas type B dan C susah untuk berkembang. Oleh karenanya di tahun 1970 (Rakerkesnas ke-3 ) diputuskan cuman ada satu jenis puskesmas, yakni puskesmas dengan 1 daerah kerja tingkat kecamatan atau dalam satu daerah dalam jumlah warga di antara 30.000- 50.000 jiwa. Ide berdasar daerah kerja ini masih dipertahankan sampai akhir Pelita II tahun 1979 kemarin. Semenjak Pelita III (1979/1980) ide daerah puskesmas diperkecil jadi 30.000 jiwa. Usaha kesehatan pokokpun diperlebar jadi 12 usaha selaku berikut ini:

  1. a) Perawatan dan penyembuhan
  2. b) Pencegahan dan pembasmian penyakit
  3. c) Pendidikan kesehatan warga
  4. d) Kesehatan lingkungan
  5. e) Kesejahteraan ibu dan anak dan keluarga merencanakan
  6. f) Perbaikan nutrisi
  7. g) Usaha kesehatan sekolah
  8. h) Kesehatan jiwa
  9. i) Kesehatan gigi
  10. j) Perawatan kesehatan warga
  11. k) Laboratorium
  12. l) Statistik (pendataan dan laporan)
  13. m) 5. Masa 1990-sekarang

Usaha kesehatan warga itu lagi berkembang hingga saat ini jadi elemen servis kesehatan primer dengan 18 usaha kesehatan selaku berikut ini:

  1. a) Kesehatan ibu dan anak
  2. b) Keluarga merencanakan
  3. c) Gizi
  4. d) Pengobatan
  5. e) Pencegahan dan pembasmian penyakit menyebar
  6. f) Upaya kesehatan lingkungan
  7. g) Upaya perawatan kesehatan warga
  8. h) Upaya kesehatan sekolah
  9. i) Upaya kesehatan jahila
  10. j) Upaya kesehatan kerja
  11. k) Upaya kesehatan gigi dan mulut
  12. l) Upaya kesehatan jiwa
  13. m) m.Usaha kesehatan mata dan penjagaan kebutaan
  14. n) Upaya penerangan kesehatan
  15. o) Pembinaan ikut serta warga
  16. p) Upaya kesehatan olahraga
  17. q) Laboratorium simpel
  18. r) Pencatatan dan laporan

Upaya-upaya itu selanjutnya menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.128/MENKES/SK/II/2004 mengenai Peraturan Landasan Pusat Kesehatan Warga digolongkan jadi dua yaitu:

  1. Usaha kesehatan harus
  2. Upaya promo kesehatan
  3. Upaya kesehatan lingkungan
  4. Upaya kesehatan ibu dan anak dan keluarga merencanakan
  5. Upaya pembaruan nutrisi warga
  6. Upaya penjagaan dan pembasmian penyakit menyebar
  7. Upaya penyembuhan
  8. Usaha kesehatan peningkatan
  9. Upaya kesehatan sekolah
  10. Upaya kesehatan olahraga
  11. Upaya perawatan kesehatan warga
  12. Upaya kesehatan kerja
  13. Upaya kesehatan gigi dan mulut
  14. Upaya kesehatan jiwa
  15. Upaya kesehatan mata
  16. Upaya kesehatan lanjut usia
  17. Upaya pembimbingan penyembuhan tradisionil